
Kursi kosong yang ditinggalkan pak Musliar Kasim sepertinya sangat banyak peminatnya. Setidaknya itu yang saya tangkap ketika saya ngobrol dengan seorang dosen di Lab. Pak B bilang peminatnya memang banyak, ada yang malu-malu tapi ada juga yang sudah minta restu.
“kapan pak pemilihan rektornya?”
“Pendaftaran calon pada awal September, pemilihan awal oleh dosen pada pertengahan September dan pemilihan oleh senat universitas pada akhir bulan. Dijadwalkan awal atau pertengahan Oktober sudah ada rektor baru”
“Wah, sebentar lagi ya pak. Cuma sebulan lagi. Udah panas dong suasana kampanye pak?”, korek saya lebih dalam.
“Ya udah. Ada satu calon yang sudah menjelek-jelekkan calon-calon lain secara terbuka di milis dosen”, jawab pak B sambil tersenyum. “Si A tak becus kerja lah, si B tidak berprestasi lah. Semua calon dikomentarin negatif”, sambung pak B.
“Black campaign dong pak?”
“Kalau menurut dia bukan blek kempen, itu negative campaign“, jawab pak sambil nyegir. “kalau menurut saya sama saja, intinya menjelek-jelekkan pihak lain demi keuntungan sendiri”, imbuhnya lagi.
“Memangnya yang melakukan black, eh, negative campaign tersebut hebat pak orangnya? sehingga yang lain selalu ada kelemahan dimata bapak tersebut?”, saya makin penasaran dengan sosok black campaigner tersebut.
“Yang kedengaran selama ini hanya koar-koar fitnah bapak tersebut. Prestasi? ntahlah”
Saya menerawang mikir betapa mungkin bergejolaknya politik pemilihan rektor ini. Calon banyak dan mulai gontok-gontokan. Cakak banyak. Tiba-tiba saya tersadar.
“Pak, yang tanda tangan ijazah buat wisuda September ini siapa?”
0 Tanggapan ke “‘cakak banyak’ calon rektor”