
Di pinggir sungai dalam kegiatan ospek, kami berjalan melewati pos-pos yang dijaga mahasiswa senior. Saya tidak ingat pos ke berapa ketika senior yang disana bertanya, “kamu orang mana?”. Saya menjawab, “orang Padang senior”. Sebuah pukulan mendarat di perut saya. “Kamu orang mana?”, tanya senior itu lagi. Saya mikir apa tadi saya jawabnya kurang kenceng, maka dengan lantang saya jawab, “orang Padang senior!!!”. Buk! kali ini saya meringis disabet gulungan koran. Gulungan koran itu kami yang buat, digulung sepadat mungkin dari beberapa lembar koran, lalu dikumpulkan untuk diserahkan ke para senior. Dipakai buat nyabet kami
“Kamu orang mana?”, tanya senior tersebut untuk ketiga kalinya. Saya mulai mengerti. Dijurusan saya ini mahasiswanya beaneka ragam dari berbagai daerah dan suku. Saya jawab dengan lantang, “orang Indonesia senior!”. Dia lalu mempersilahkan jalan ke pos selanjutnya.
Peristiwa di ospek tersebut selalu teringat oleh saya. Menyadarkan hal-hal kecil tentang Indonesia. Setelah menjadi mahasiswa tidak pernah lagi saya mengikuti upacara bendera yang biasa dilakukan di senin pagi di SMA dulu. Melihat bendera merah putih di tiang seharusnya menyadarkan kita betapa banyak orang yang berkorban sehingga bendera tersebut berada disana. Orang-orang yang disebut pahlawan. Mereka berkorban jiwa dan korban materi untuk kemerdekaan Indonesia. Itu pasti jauuuuuuhhhhhhhhhhhh lebih besar dari menuliskan hastag #17an.
Hmmm… kalau saya daripada menjawab orang Indonesia lebih baik menjawab orang Islam. Hehehe…
Salam kenal.
http://summer26dawn.wordpress.com/2011/08/17/ocehan-belum-merdeka/
mana publikasi berikutnya…. kartunnya creative innovatif
@rahmad: saya lagi sibuk nulis skripsi. ha..ha..